Ekstrakurikuler di Sekolahku

Suka Duka Pengembangan TIK di daerah pedesaan


Saya telah mengelola program ekstrakurikuler dalam bidang kursus komputer di sekolah SMA Negeri 1 Peunaron kabuapten Aceh timur, sejak pertengahan tahun 2006. Saya adalah guru komputer yang pertama kali di SMA Negeri 1 Peunaron Kabupaten Aceh timur, karena sebelumnya belum ada materi TIK di tingkat SMA, materi TIK baru ada setelah pemerintah menerapkan kurikulum berbasis kompetensi (KBK). Karena pada saat itu sekolah kami belum memiliki laboratorium dan perangkat komputer  maka pengajaran TIK hanya sebatas teori. untuk membantu peraktek komputer siswa pada pertengahan tahun 2006 saya secara pribadi membeli 7 perangkat komputer dengan tujuan membantu mengembangkan siswa-siswa yang memiliki minat dan bakat dalam bidang komputer. kegiatan peraktek komputer yang saya adakan  ini tidak bersifat wajib dan hanya diperuntukan untuk siswa-siswi yang memang berminat untuk peraktek komputer pada sore hari atau malam hari dalam bentuk kursus komputer. dan kegiatan kursus komputer ini pun sangat didukung oleh kepala sekolah, karena kepala sekolah  memasukan kegiatan kursus komputer yang saya adakan ini sebagai kegiatan ekstrakurikuler sekolah.


Mengingat  para siswa/siswi kami kebanyakan dari golongan ekonomi lemah, maka saya hanya membebankan biaya  Rp. 2000 per 1 kali pertemuan dengan durasi waktu 2 jam, meskipun biaya les komputer yang saya tawarkan relatif murah namun yang berminat untuk mengikuti les komputer pada saat itu sangat minim, kurang lebih hanya 10% dari seluruh siswa SMA Negeri 1 Peunaron pada tahun ajaran 2006/2007. dan pada tahun ajaran 2007/2008 sengaja saya turunkan tarif kursus komputer menjadi rp. 1000 untuk satu kali pertemuan namun sama juga dengan tahun ajaran sebelumnya peserta les komputer yang saya adakan baru hanya mencapai sekitar 12% dari seluruh siswa pada saat itu.


Setelah saya analisa ada beberapa hal yang menyebabkan para siswa-siswa saya tidak tertarik untuk mengikuti les komputer, diantara yaitu : (1). Faktor lingkungan dan keluarga, lingkungan kami adalah daerah pedesaan sehingga hampir 80% orang tua dari siswa-siswi kami adalah petani, jadi setiap sore mereka bekerja keladang atau kesawah untuk membantu orang tuanya. (2). Faktor Edukasi, pada saat itu kursus komputer hanya untuk menunjang pelajaran peraktek komputer di sekolah, jadi pengajarannya kurang bervariasi, yang dapat menyebabkan kejenuhan siswa.


Pada akhir tahun 2007 di Peunaron telah ada jaringan telkomsel. dan setelah beberapa bulan kemudian hampir seluruh siswa-siswi kami memiliki Hand Phone (HP), atas dasar itu saya mendapat inspirasi untuk merubah pengajaran yang berbeda pada kursus komputer, diantaranya adalah memasukan materi multimedia dan jaringan. Dengan pengajaran ini diharapkan siswa-siswi dapat mengunggunakan komputer untuk berkomunikasi data dengan HP sehingga mereka bisa memasukan program2 HP, antivirus HP, gambar2, lagu2 yang mereka sukai ke HP, disamping itu juga mereka bisa mengkonversi  / encoding music MP3 atau video CD kedalam format 3gp sehingga bisa dijalankan di HP mereka. inspirasi ini saya tuangkan kedalam pamplet pengumuman kursus komputer di sekolah, dan alhamdulillah hampir 20% siswa SMA Negeri 1 Peunaron pada tahun ajaran 2007 / 2008 mengikuti les komputer yang saya adakan. dan hal ini menandakan bahwa sebuah pengajaran akan bermakna bagi siswa apabila siswa itu membutuhkannya.

Pada tahun ajaran 2008/2009, saya  membeli 2  modem GSM dan berlangganan Telkomsel Flash Unlimited dengan tujuan bisa mengenalkan internet kepada siswa/siswi dan juga untuk rental internet. 2 modem GSM ini saya sharing untuk 7 komputer sehingga satu modem disharing untuk 3 komputer, walau koneksinya terasa agak lambat, tapi ini bisa menjadi solusi untuk penganalan internet pada siswa-siswi.
untuk kursus internet saya membebankan biaya hanya Rp. 3.000 kepada siswa untuk durasi waktu 2 jam pelajaran, dan meskipun tarif ini sangat murah dibanding didaerah perkotaan, namun peminatnya pun masih seperti tahun sebelumnya hanya sekitar 21% dari Siswa/siswi SMA Negeri 1 Peunaron pada saat itu.


Menjelang olimpiade sains 2009 penggunaan internet benar-benar terasa sangat bermakna, karena kami bisa mendownload soal-soal olimpiade sains tahun-tahun sebelumnya. dan ini mungkin salah satu faktor penunjang keberhasilan sekolah kami dalam olimpiade sains tingkat UPTD dan kabupaten tahun 2009. pada tahun 2009 kemarin siswa kami berhasil memperoleh juara 1 dan 2 Olimpiade Komputer tingkat UPTD dan juara 2 tingkat kabupaten, Juara 1 Olimpiade ekonomi tingkat UPTD dan juara 3 untuk tingkat Kabupaten, Juara 2 Olimpiade astronomi tingkat UPTD dan juara 1 tingkat Kabupaten, Juara 1 Olimpiade Kimia tingkat UPTD dan juara 3 tingkat Kabupaten, Juara 1 Olimpiade kebumian tingkat UPTD dan Juara 2 Olimpiade kebumian tingkat kabupaten, Juara 2 Olimpiade biologi tingkat UPTD. secara umum kami mendapat peringkat 1 dalam ajang olimpiade Sains tingkat UPTD dan peringkat ke 3 dalam ajang Olimpiade Sains tingkat Kabupaten.


Sebagai seorang guru TIK di SMA Negeri 1 Peunaron sejak tahun 2006, saya mengalami banyak kendala dalam pengajaran TIK, hal itu dikarenakan sekolah kami belum memiliki laboratorium dan perangkat komputer, saya hanya memiliki 7 perangkat komputer yang digunakan untuk les komputer sore bagi siswa-siswa yang berminat. ketika mengajarkan Materi Microsoft Word, Excel dan Powerpoint, photoshop, winamp dan software multimedia lainnya disekolah secara teori tanpa peraktek ini merupakan pengajaran yang sangat sulit, karena materi-materi itu baru bisa dimengerti apabila siswa memperakatekkannya sendiri. untuk mengatasi kesukaran itu pada tahun ajaran 2008/2009 materi-materi ini dibahas hanya untuk les komputer sore. sedangkan untuk materi disekolah saya ajarkan Algoritmatika dan pemograman serta analitika. dengan tujuan bisa ikut bertanding dalam ajang olimpiade sains tahun 2009 karena tahun-tahun sebelumnya kami belum pernah mengikuti olimpiade sains komputer. materi Algoritmika dan pemograman bisa diterangkan tanpa menggunakan komputer, karena model pembelajarannya hampir sama dengan model pembalajaran matematika, dan saya kira materi ini merupakan solusi pengajaran TIK  bagi sekolah-sekolah yang belum memiliki komputer. Pengajaran Algoritmika dan Pemograman merupakan dasar untuk mendidik siswa  menjadi produsen (pembuat sofware) sedangkan pengajaran Microsoft Word, Winamp hanya mendidik siswa untuk menjadi konsumen, sehingga untuk menciptakan siswa yang berkompetensi dalam bidang TIK, mereka perlu mendapatkan materi algoritmika dan pemograman.


Alhamdulillah, karena mengajarkan materi Algoritmika dan pemograman disekolah, dalam ajang olimpiade sains komputer 2009  siswa kami meraih juara 1 dan 2 tingkat UPTD serta juara 2 tingkat kabupaten. atas dasar ini maka saya terinspirasi untuk membuat suatu kegiatan ekstrakurikuler baru disekolah yang berbeda dengan tahun sebelumnya,  pada pertengahan semester 2 tahun ajaran 2008/2009 saya mulai merintis kegiatan ekstrakurikuler baru yang saya berinama  'Programer Comunity' (Komunitas Programer), dengan tujuan memberikan wadah bagi siswa yang memiliki bakat dan minat dalam hal pemograman komputer, disamping itu juga dengan adanya komunitas programer ini, diharapkan akan melahirkan siswa/siswi yang siap untuk bertanding dalam ajang olimpiade sains tingkat UPTD, Kabupaten, propinsi bahkan sampai ke tingkat nasional dan internasional.


setelah saya rintis 6 bulan yang lalu, siswa yang berminat untuk bergabung kedalam Programer Comunity tidak banyak hanya 10 orang siswa. Kegiatan programer comunity terpisah dari les komputer sore. selama ini kegiatan programer komunity dilakukan 3 kali dalam satu minggu, yaitu setiap hari minggu, rabu dan jum'at. materi yang diajarkan dalam kegiatan programer comunity juga berbeda dengan materi les sore. Materi yang diajarkan dalam kegiatan programer comunity antara lain dasar-dasar Algoritmatika dan Pemograman, Analitika, Aritmatika, Matematika diskret, bahasa pemograman pascal, Basic dan juga Bahasa Turbo C, serta bahasa pemograman internet seperti Pengenalan HTML, JavaScript, VisualBasic Script, PHP, ASP, serta webdesign dengan menggunakan DreamWeawer. meskipun jumlah peserta kami tidak begitu banyak tetapi kepala sekolah kami sangat mendukung kegiatan kami ini, karena menurut kepala sekolah kegiatan programer comunity adalah merupakan kegiatan pengembangan diri yang bisa menyamakan sekolah kami dengan SMK IT.


Alhamdulillah pada tanggal 15 Agustus 2009 sekolah kami telah memiliki 8 unit komputer dan jaringan internet, walaupun dengan jaringan GSM. ini akan mempermudah pengajaran TIK disekolah, dan tentunya akan mendukung bagi kegiatan ekstrakurikuler programer comunity dan les komputer di sekolah karena selama ini pelaksanaanya sangat terbatas hanya dengan 7 komputer dan 2 modem GSM untuk akses internet dirumah saya. mudah-mudahan kegiatan ekstrakurikuler programer comunity tetap konsisten dan berkesinambungan sehingga tujuan untuk meyamakan SMA kami dengan SMK IT dapat terwujud, dan tujuan untuk melahirkan siswa/siswi yang siap untuk bertanding dalam ajang olimpiade sains komputer juga terwujud.

inilah sekelumit kisah saya dalam mengembangkan TIK didaerah pedesaan. jika ada komentar dan saran silahkan ada poskan pada bagian komentar dibawah ini. terimkasih.

2 komentar:

  1. Ass. salam kenal wah zaman sekarang ada siswa yang tidak suka komputer gimana bisa ngerti internet ya

    BalasHapus
  2. Yang harus kita pikirkan sekarang adalah "bagaimana di Peunaron berdiri satu buah sarana internet", namun jangan lupa bimbingan terhadap siswa-siswi dari semua pihak diperketat...? Supaya mengerti tentang dunia maya(facebook dll..)Jangan cuma teori saja....karena itu membuat siswa-siswi hanya berfantasi dan membuat bosan(teori dan praktek sejalan). Terima kasih!!!

    BalasHapus